Home Politik Isu SARA Itu Pemecah Belah, Bertentangan dengan Agama
PolitikTerkini

Isu SARA Itu Pemecah Belah, Bertentangan dengan Agama

Share
Share
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus saat kampanye akbar di Lapangan BSBD Kisaran, Minggu (29/4).
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus saat kampanye akbar di Lapangan BSBD Kisaran, Minggu (29/4).

PotretBisnis.com, ASAHAN – Isu Suku, Agama, Ras Antargolongan (SARA) yang dilemparkan ke publik oleh sejumlah pihak tidak akan mampu memecah belah warga Sumatera Utara (Sumut). Terlebih saat mendekati momen kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 ini. Isu tersebut dinilai hanya perbuatan orang-orang yang tidak mampu bertarung secara rasional dengan etika politik yang santun.

Hal itu diungkapkan Ustaz H Syahrul Efendi Siregar yang juga merupakan kader dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Ia mengatakan bahwa pada prinsipnya Pilkada khususnya dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) adalah ajang mencari kepala daerah dan bukan imam salat. Karena itu, masyarakat jangan terprovokasi dengan isu-isu SARA yang kerap dihembuskan untuk merusak rasionalisme berpikir warga. “Kita sekarang memilih imam sholat atau gubernur? Kalau milih gubernur ya pilih nomor dua, pasangan Djarot dan Sihar,” kata Syahrul dalam orasinya di Lapangan BSBD Jalan Ir Sutami Kelurahan Dadi Mulyo Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan
Dalam wawancara singkat bersama wartawan di sela sela Kampanye Akbar pasangan Djarot Sihar di Asahan akhir pekan lalu, alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut tersebut mengatakan bahwa dalam ranah pemilihan kepala daerah, selalu saja dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab menyebarkan isu yang menghujat. Padahal itu sangat bertentangan dengan agama. Karena itu masyarakat harus rasional dan jangan terpengaruh isu-isu tersebut. “Kita ingin perubahan ya pasti kita memilih nomor dua. Karena kita ingin kemajuan bersama. Karena itu, hanya orang munafik yang menghembuskan isu SARA untuk memecah belah persatuan bangsa,” katanya.
Maka dari itu, Syahrul berharap masyarakat bisa bijak dalam menyikapi isu SARA. Sebab, memilih pemimpin sesuai dengan pengalaman dan keadilan terhadap masyarakat. Ia menegaskan, masyarakat memilih paslon yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk perubahan.
Dia menegaskan bahwa dalam Islam, mengangkat pemimpin non-muslim itu boleh. Persyaratan mutlak itu adalah keadilannya. “Kita bukan mau mengangkat imam salat, ketua perwiritan, ketua zakat. Tapi, yang kita angkat itu pemimpin wilayah yang memang ahli dalam bidang birokrasi,” ujarnya lagi. (bcl comm)
Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles
Terkini

915 Catatan Raptor Migran di Megamendung, Yayasan Paseban Dorong Perlindungan Hutan

PotretBisnis.Com, BOGOR-Kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi salah satu lokasi persinggahan...

Terkini

Pelapor Keberatan Dua Anggota Polri Dinyatakan Tak Melanggar, Minta Propam Polda Kepri Tinjau Ulang

PotretBisnis.Com, BATAM – Pelaksana proyek Baloi Kolam, Moody Arnold Timisela, meminta Polda...

Terkini

Korban Perdagangan Ilegal, Orangutan Sumatera “Rocky” Dipulangkan dari India ke Sumut

PotretBisnis.Com, DELI SERDANG – Orangutan Sumatera bernama Rocky yang menjadi korban perdagangan...

Terkini

Prestasi Gemilang, Imigrasi Kualanamu Raih Penghargaan dalam Rapat Koordinasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian

PotretBisnis.com, MEDAN- Kerja keras Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Kualanamu dalam...