Home Jasa Rumah Tenun Ulos Medan Diresmikan
JasaPerdagangan

Rumah Tenun Ulos Medan Diresmikan

Share
Model memperagakan busana berbahan ulos hasil para perajin Rumah Tenun Ulos di Medan, Sumatera Utara, Kamis (10/12). Kegiatan fashion show yang memadukan Ulos khas Batak tersebut menampilkan aneka kreasi rancangan busana dengan menggunakan tenunan khas Sumatera Utara. ANTARA FOTO/Septianda Perdana/pd/15
Share

 

PotretBisnis.com,Medan–Menteri tenaga kerja (Menaker), Muhammad Hanif Dakhiri menegaskan peresmian “Rumah Ulos” akan akan menjadikan satu kebangkitan pariwisata budaya di Sumatera Utara (Sumut) dan mampu menciptakan lapangan kerja dari banyaknya perajin ulos di  daerah ini. daerah ini.

Hal itu dikatakan Menaker pada peresmian “Rumah Tenun Ulos Kota Medan” sekaligus Pemecahan Rekor MURI “Gaun  Etnik Seratus Motif Ulos dan Songket Sumut”,  di rumah ulos milik Robert Sianipar, Jalan AR Hakim Gang Pendidikan Medan,  Kamis (10/12/2015).

Hadir di sana Plt Gubsu HT Erry Nuradi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia  (BI) Provinsi Sumatera Utara  (Sumut), Difi A Johansyah, Kepala Kantor Regional 5  Sumatera Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ahmad Sukro Tratmono dan pejabat lainnya.

 

Dalam kesempatan itu, Menaker, Plt  Gubsu dan Difi A Johansyah menandatangani prasasti Rumah Ulos dan Menaker juga menandatangani peresmian galeri ulos  tersebut. Wakil dari MURI, Osmar Semesta Susilo menyerahkan plakat rekor MURI atas gaun etnik 100 motif ulos yang  dipakai putri Sumut 2015 Arista Putri Pertiwi dan dipakai juga pada ajang pemilihan Putri Indonesia Pebruari 2016.

 

Menaker menyebutkan, kota harus bergerak dari titik tolak kekayaan  sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia  (SDM) dan budaya daerah lokal. Selama ini menurut Menaker, nilai lebih dari ciri khas daerah itu cenderung  dihilangkan. Sebaliknya kita suka hal baru, namun tak tahu apa artinya.

 

Dia mencontohkan, di Eropa dan AS, kata Menaker, ada bangunan rumah yang biasa saja bentuknya. Tapi di depan rumah itu  tertulis sejarah rumahnya yang menyebut rumah ini dibangun tahun 1890 misalnya, sekarang sudah beberapa generasi  sampai ke tangah terakhir maka ditawarkan harganya jadi mahal.

“Yang dijual bukan bangunan rumahnya, tapi sejarah rumah itu,” katanya.

 

Menurut Menaker, bangsa kita sendiri sebenarnya bisa mengembangkan itu, asalkan tidak tergerus dengan  hal-hal baru. Dengan latar belakang tradisi masyarakat yang kental seperti dari ulos dan budaya lainnya maka mampu  menjual sisi wisatanya. Perajin ulos juga akan bertambah dan ini expert, ada sertifikatnya.
“Mudah-mudahan rumah ulos ini dapat sebagai wisata sekaligus menambah tenaga kerja dan mengurangi  pengangguran,” ujarnya.

 

Wisata yang dimaksud Menaker adalah kalau wisatawan datang ke Kota Medan dan mau mencari ulos seluruh etnik yang  ada di Sumut maka ada tempatnya di Rumah Ulos Sianipar ini

 

Plt Gubsu, HT Erry Nuradi mengatakan, Sumut memiliki 8 etnis lokal

yakni 6 etnik batak Toba, Samosir, Karo, Mandailing,Angkola, Pesisir, Dairi ditambah Nias dan Melayu ditambah etnik nusantara serfta mancanehgara. Semua  etnis cukup baik dan Sumut dipandang sebagai pelangi yang indah dipandang mata. Banyak etnis tapi hidup rukun damai. “Jarang ada konflik akibat keberagaman etnik tersebut,” kata Erry.

Dengan hadirnya rumah tenun ulos ini dapat jadi pembelajaran dan memperluas tenaga kerka sekaligus ikon  budaya Sumut. Master piece gaum etnik dengan menggunakan 100 motif ulos yang ada di Sumut cukup membeirkan kebanggan  tersendiri. Berharap penenun terus dapat berkarya.

 

Erry menilai, pemecahan rekor MURI ini dapat memberikan momentum bagi Sumut dan mancanegara. Apalagi akhir  tahun sudah masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Difi A Johansyah menyebutkan Bank Indonesia sendiri sudah membina sejumlah penenun ulos,bahkan sebagai ulos  terpanjang di Indonesia juga sudah mendapat rekor MURI. Slogan BI: “Dari BI Medan untuk Sumut Lebih baik”.

“Kami niat untuk yang terbaik dan memberikan sumbangsih untuk Sumut. Kami buat ikon, yang disini nanti keberagaman  etnik Sumut sangat kaya, lebih kaya dari Malaysia, juga termasuk kulinernya,” tegas Difi.

Sekarang, kata Difi, kalau ada tamu dari luar, mau ulos Batak, Melayu sudah ada dan tau tempatnya dimana.  “Kami juga sudah minta pramugari Garuda pakai ulos, nanti makanannya juga khas Sumut,” ungkap Difi.

Di ulos Robert Sianipar ini, katanya, ada 50 perajin ulos yang dibina, kayu dari kampung. “Konsep saya,  Medan juga bisa menyaingi Bandung. Nanti ada kuliner tempe goreng, juga kacang Sihobuk. Kerajinan ini bisa dikembangkan lebih luas lagi,” katanya. (isya)

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles
JasaPolitik

Semarak Budaya dalam Satu Bingkai Kebinekaan, Sofyan Tan: Fotografi Jadi Arsip Visual Kebudayaan

PotretBisnis.Com, MEDAN- Keberagaman budaya Indonesia menjadi kekuatan yang perlu terus direkam dan dilestarikan....

Perdagangan

Pedagang Laporkan Lotte Grosir Medan ke Polda Sumut, Dugaan Kerugian Hampir Rp2 Miliar

PotretBisnis.Com, MEDAN-Fitra Burnama Indera (42), seorang pedagang, melaporkan Lotte Grosir Medan yang...

Jasa

Ijeck Teruskan Amanah H. Anif, MTQ YHA ke-7 Digelar dan Pembangunan 99 Masjid Berlanjut

PotretBisnis.Com, MEDAN — Ketua Yayasan Haji Anif (YHA) Musa Rajekshah atau akrab...

Jasa

Hari Kedua Pameran Foto Prahara Pulau Emas Jadi Ruang Diskusi Mitigasi Bencana

PotretBisnis.Com, MEDAN — Pameran foto jurnalistik Prahara Pulau Emas yang digelar Pewarta...