PotretBisnis.com-MEDAN– drg Ratu Mirah Afifah GCClinDent MDSc selaku Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia menyebutkan bahwa pentingnya mewaspadai gula tersembunyi yang ternyata banyak di konsumsi setiap hari, terutama karena risiko yang ditimbulkannya terhadap masalah karies atau gigi berlubang.
“Sesuai dengan tema yang diangkat tahun 2018 yaitu, Lindungi Kesehatan Gigi Keluarga dari Risiko Gula Tersembunyi, Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2018 memberikan edukasi mengenai pentingnya mewaspadai gula tersembunyi yang ternyata banyak kita konsumsi setiap hari, terutama karena risiko yang ditimbulkannya terhadap masalah karies,” ungkapnya, Senin (12/11).
Terkait dengan konsumsi gula, dijelaskannya, World Health Organization (WHO) menganjurkan bahwa asupan gula dari semua sumber makanan dan minuman tidak melebihi 50 gram per hari untuk dewasa dan 30 gram per hari untuk anak. Sayangnya, data Survey Konsumsi Makanan Individu (SKMI) Indonesia tahun 2014 menyatakan bahwa sebanyak 29,7% masyarakat Indonesia mengonsumsi gula harian melebihi batas rekomendasi tersebut. Konsumsi gula berlebih ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat akan kehadiran gula tersembunyi.
”Selama ini kita tidak menyadari bahwa konsumsi gula sehari-hari ternyata layaknya sebuah gunung es. Makanan dan minuman yang bercitarasa manis sebenarnya hanya sebagian kecil dari gula yang kita konsumsi, di luar itu, faktanya begitu banyak jenis makanan dan minuman tidak manis namun mengandung gula tersembunyi yang menimbulkan berbagai risiko kesehatan, termasuk gigi berlubang,” ujar drg Mirah.
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara (USU) Dr drg Trelia Boel MKes Sp RKG (K) selaku menjelaskan bahwa masalah gigi berlubang atau karies seringkali digambarkan sebagai empat mata rantai yang saling berinteraksi, yaitu host yang terdiri dari gigi dan air liur, mikroorganisme atau bakteri pada plak, substrat atau asupan makanan, dan waktu.
”Bicara mengenai substrat, gula yang kita konsumsi diubah oleh mikroorganisme di dalam mulut sehingga kondisi pH mulut otomatis berubah menjadi asam dan proses karies pun terjadi,” jelasnya.
Selain substrat, lanjutnya, faktor waktu juga penting diperhatikan karena berhubungan erat dengan seberapa seringnya mengonsumsi gula, termasuk gula tersembunyi. Namun, proses karies akibat gula ini dapat dikendalikan dengan lebih mewaspadai konsumsi gula dan menginterupsi waktu pembentukan karies dengan rutin menyikat gigi pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride, serta berkonsultasi ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali,” jelad drg Trelia.
Topik penting inilah yang diangkat melalui BKGN 2018, menurutnya, yang secara keseluruhan memiliki target untuk mengedukasi dan melayani lebih dari 65.000 masyarakat Indonesia melalui rangkaian aktivitas yang digelar di 23 Fakultas Kedokteran Gigi dan 40 cabang PDGI di berbagai wilayah Indonesia hingga Desember mendatang.
“Pepsodent, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI)
dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesila (AFDOKGI) mengajak masyarakat untuk hadir dan memanfaatkan fasilitas serta layanan yang dipersembahkan di BKGN 2018, sehingga tujuan utama dari penyelenggaraan program ini, yaitu menciptakan Senyum Sehat Keluarga Indonesia, akan tercapai sebagai dukungan bagi pemerintah menuju Indonesia bebas karies tahun 2030,”ujarnya. (PB/ZK)
Leave a comment