PotretBisnis.Com, JAKARTA — PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) menegaskan komitmennya dalam menerapkan konsep green port sebagai bagian dari transformasi operasional perusahaan yang tidak hanya berfokus pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga perlindungan kesehatan pekerja serta penciptaan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar wilayah operasional.
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, mengatakan transformasi menuju pelabuhan hijau tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan terciptanya lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi seluruh pekerja.
“Green port bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan keberlangsungan operasional yang sehat dan aman bagi pekerja. Kami memandang bahwa perlindungan terhadap kesehatan pekerja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan bisnis,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan sistem manajemen lingkungan berbasis ISO 14001 dan penilaian PROPER, pengendalian emisi, efisiensi energi, pengelolaan limbah berbasis prinsip 3R, serta optimalisasi proses bongkar muat yang lebih ramah lingkungan.
Di sektor operasional, PTP Nonpetikemas juga menerapkan berbagai inovasi untuk mendukung pengurangan emisi, seperti penggunaan lampu LED, pemanfaatan overhead crane (OHC) guna mengurangi ketergantungan terhadap alat berbahan bakar fosil, hingga elektrifikasi alat bongkar muat sebagai bagian dari transisi menuju operasional rendah emisi.
Sebagai operator terminal multipurpose, perusahaan turut mengimplementasikan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) di seluruh lini bisnis guna mewujudkan operasional pelabuhan yang lebih bersih, efisien, aman, dan berkelanjutan.
Dalam penanganan komoditas curah cair, langkah pencegahan pencemaran dilakukan melalui pemasangan oil boom sebelum kegiatan bongkar muat serta peningkatan kesiapsiagaan personel melalui pelatihan IMO OPRC untuk memastikan respons cepat terhadap potensi pencemaran laut.
Selain menjaga lingkungan, perusahaan juga menempatkan kesehatan pekerja sebagai bagian penting dari implementasi green port, terutama pada aktivitas bongkar muat komoditas curah kering yang memiliki potensi paparan debu dan faktor lingkungan lainnya.
Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, mengatakan transformasi menuju pelabuhan hijau kini menjadi kebutuhan yang harus dijalankan oleh industri kepelabuhanan.
“Green port adalah kebutuhan, bukan lagi pilihan. Industri pelabuhan harus bergerak menuju operasional yang lebih bersih dan berkelanjutan, karena di balik itu ada aspek yang paling penting, yaitu kesehatan dan keselamatan manusia,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi risiko, perusahaan menerapkan pendekatan HSSE melalui HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control) dan Health Risk Assessment (HRA) untuk mengidentifikasi potensi bahaya serta risiko kesehatan secara menyeluruh di 11 cabang operasional.
Program kesehatan kerja seperti medical check-up (MCU), fit to work, dan pengukuran kualitas lingkungan kerja juga dilakukan secara berkala guna memastikan kondisi pekerja tetap memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja.
Di lapangan, berbagai langkah konkret dilakukan untuk menekan paparan polusi, antara lain penyiraman rutin area dermaga dan stockpile, penerapan dust suppression system, penggunaan alat ukur debu, serta pengaturan operasional untuk mengurangi waktu idle alat berat.
Budaya keselamatan kerja juga terus diperkuat melalui pelaksanaan lebih dari 1,27 juta safety patrol sepanjang 2025 dan lebih dari 14.000 safety briefing yang dilakukan secara konsisten di seluruh wilayah operasional perusahaan. Pemanfaatan HSSE Dashboard turut mendukung pemantauan kondisi lapangan secara real time dan mempercepat pengendalian potensi risiko melalui sistem digital terintegrasi.
Selain fokus pada operasional hijau dan kesehatan pekerja, PTP Nonpetikemas juga memperkuat kontribusi sosial dan lingkungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang selaras dengan prinsip ESG dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Hingga saat ini, perusahaan telah menjalankan berbagai program TJSL yang mencakup bidang pendidikan, lingkungan, pengembangan UMKM, dan sosial kemasyarakatan. Terdapat tiga program berbasis Creating Shared Value (CSV), yakni PTP Peduli K3 yang dilaksanakan di seluruh cabang bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan, program kompetensi dan sertifikasi profesi bagi pekerja harian di Terminal Kijing, serta EduPort yang berfokus pada peningkatan kapasitas mahasiswa dan pengembangan inovasi di sektor kepelabuhanan.
Dalam aspek lingkungan, PTP Nonpetikemas juga berpartisipasi dalam penanaman 11.000 bibit mangrove sebagai bagian dari komitmen pembangunan pelabuhan hijau bersama ekosistem Pelindo Group.
Sementara pada aspek sosial, program Employee Social Responsibility (ESR) melibatkan partisipasi aktif karyawan dalam berbagai kegiatan sosial, seperti bantuan pendidikan, pembagian sembako dan takjil, donor darah, santunan anak yatim, hingga bantuan tanggap bencana.
PTP Nonpetikemas meyakini bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari capaian operasional dan kinerja keuangan, tetapi juga dari kontribusi nyata terhadap kesehatan pekerja, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan sosial masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.









