PotretBisnis.Com, TOBA – Bagi masyarakat Dusun Baturangin, tanah bukan sekadar warisan leluhur, melainkan sumber penghidupan dan harapan agar generasi berikutnya tetap dapat tinggal serta membangun masa depan di kampung sendiri.
Namun, keterbatasan akses dan infrastruktur membuat potensi dusun yang telah dihuni sejak sebelum Indonesia merdeka itu belum berkembang optimal. Sebagian warga bahkan terpaksa meninggalkan kampung halaman karena sulitnya akses transportasi dan terbatasnya peluang ekonomi.
“Kami berharap ada pihak yang berkenan membantu kami keluar dari ketertinggalan ekstrem. Dusun ini merupakan peninggalan nenek moyang kami, bahkan sudah ada sebelum Belanda masuk ke Indonesia. Dulu kampung kami ramai, tetapi karena tidak ada akses yang layak, banyak penduduk terpaksa pergi,” ujar Buka, tokoh adat Dusun Baturangin, Rabu (28/10/2026).
Buka mengaku khawatir kampung leluhurnya perlahan kehilangan penduduk jika persoalan akses dan pembangunan tidak segera mendapat perhatian.
“Indonesia sudah merdeka, tetapi kami masih belum merasakan arti kemerdekaan itu sepenuhnya. Kalau tidak ada bantuan dari pihak luar, mungkin kampung kami bisa hilang,” tuturnya.
Padahal, Baturangin menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar. Masyarakat memiliki sekitar 50 hektare tanah adat yang diwariskan turun-temurun. Namun, keterbatasan jumlah penduduk dan sulitnya akses membuat lahan yang baru dapat dikelola sekitar lima hektare.
Sebagian warga menggantungkan hidup dari pertanian. Padi ditanam untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan kopi menjadi salah satu komoditas andalan untuk memperoleh penghasilan. Sayangnya, hasil kebun belum bisa dipasarkan dalam jumlah besar karena warga harus melewati medan yang sulit untuk membawa hasil panen keluar dari dusun.
“Kalau menjual kopi, sekali jual kami hanya bisa membawa sekitar 25 kilogram. Kami harus membawanya sendiri melewati medan yang sulit. Padahal, hasil penjualannya bisa kami gunakan untuk membayar biaya pendidikan dan ditabung,” katanya.
Selain kopi dan padi, warga juga memiliki tanaman nilam yang berpotensi menjadi sumber pendapatan. Buka menyebut masyarakat mulai mengetahui nilai ekonomi minyak nilam yang dapat mencapai sekitar Rp1,1 juta. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan pendampingan agar pengolahan dan pemasarannya bisa dilakukan secara optimal.
“Kami punya banyak potensi. Ada kopi, padi, dan minyak nilam. Kalau ada pendampingan yang baik, kami bisa mengoptimalkannya sehingga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Bagi masyarakat Baturangin, persoalannya bukan semata-mata ketiadaan sumber daya. Mereka memiliki tanah, hasil pertanian, dan kemampuan untuk mengolahnya. Tantangan terbesar justru terletak pada akses transportasi, keterjangkauan pasar, serta terbatasnya dukungan untuk mengembangkan usaha produktif.
Karena itu, Buka berharap pembangunan infrastruktur menjadi perhatian. Jalan dan akses transportasi yang memadai dinilai dapat membantu warga mengangkut hasil pertanian, menjangkau layanan dasar, serta membuka peluang ekonomi yang selama ini sulit diraih.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), anggota Grup MIND ID, telah memberikan dukungan berupa sejumlah fasilitas dasar bagi masyarakat Baturangin.
Dalam pemberitaan mengenai program tersebut pada Mei 2026, INALUM disebut telah membantu menyediakan mesin pertanian atau jetor, kilang padi, lampu penerangan jalan, serta pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk rumah warga. Perusahaan juga membantu menghadirkan akses internet melalui layanan Starlink.
Upaya tersebut diawali dengan survei lapangan pada 2022. Saat itu, tim INALUM harus berjalan kaki sekitar enam jam untuk menempuh jarak kurang lebih 18 kilometer dari Kantor Desa Meranti Tengah menuju kawasan Baturangin.
Bagi warga yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan listrik dan komunikasi, kehadiran fasilitas tersebut membawa perubahan berarti.
“Kami berterima kasih karena INALUM sudah banyak membantu. Kami sekarang sudah punya PLTS dan internet sendiri. Walaupun masih membutuhkan waktu untuk mengisi daya, keberadaan fasilitas-fasilitas yang diberikan sudah sangat berarti bagi kami,” kata Buka.
Listrik dan internet membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan keluarga yang tinggal jauh dari kampung halaman. Meski demikian, warga masih membutuhkan dukungan berkelanjutan, terutama dalam pembangunan akses jalan dan pengembangan potensi ekonomi lokal.
Buka berharap perhatian terhadap Baturangin tidak berhenti pada bantuan fasilitas dasar. Ia ingin masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengelola tanah adat dan hasil pertanian secara mandiri, sekaligus membuka masa depan bagi generasi muda di kampung sendiri.
“Kami ingin potensi yang ada di dusun ini bisa berkembang. Kami membutuhkan akses, infrastruktur, dan pendampingan agar masyarakat bisa mengelola sumber daya yang kami miliki,” ujarnya.
Bagi masyarakat Baturangin, keluar dari ketertinggalan ekstrem bukan sekadar tentang tersedianya fasilitas dasar. Lebih dari itu, mereka ingin memiliki akses untuk mengembangkan potensi, meningkatkan kesejahteraan, dan mempertahankan kehidupan di tanah warisan leluhur.
Harapan itu masih terjaga. Mereka hanya membutuhkan kesempatan dan dukungan yang berkelanjutan agar tanah, kebun kopi, padi, serta tanaman nilam dapat menjadi sumber penghidupan yang lebih baik sekaligus menjaga Baturangin tetap hidup bagi generasi mendatang.
Leave a comment