PotretBisnis.Com, JAKARTA-Organisasi Profesi Pewarta Foto Indonesia (PFI) mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 di perairan internasional dan menahan para aktivis serta jurnalis di dalamnya.
Dua jurnalis Republika yang turut ditahan yakni Bambang Noroyono dan pewarta foto sekaligus anggota PFI, Thoudy Badai. Keduanya berada dalam rombongan kapal kemanusiaan yang membawa bantuan untuk rakyat Palestina di Gaza.
PFI menilai pencegatan bersenjata terhadap kapal kemanusiaan di wilayah perairan internasional tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan, serta kebebasan pers.
Berdasarkan laporan Command Center GSF, kapal Boralize dan Ozgurluk sempat kehilangan kontak sebelum akhirnya dipastikan diintersepsi militer Israel sekitar pukul 21.00 WIB.
Bambang Noroyono diketahui menjadi satu-satunya WNI di kapal Boralize. Sementara di kapal Ozgurluk selain Thoudy Badai, terdapat Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo dan Rahendro Herubowo yang berkontribusi untuk iNews TV, BeritaSatu, dan CNN.
Sebelum komunikasi terputus, para jurnalis sempat mengirimkan video darurat (SOS) yang mengonfirmasi kapal mereka telah diambil alih secara paksa oleh militer Israel.
PFI menegaskan tindakan tersebut merupakan kejahatan serius karena jurnalis bukan kombatan dan dilindungi Konvensi Jenewa saat menjalankan tugas jurnalistik di wilayah konflik.
PFI juga mendesak Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia segera mengambil langkah diplomatik untuk memastikan keselamatan Bambang Noroyono, Thoudy Badai, dan seluruh WNI yang berada di kapal tersebut.
Selain itu, PFI mengajak komunitas pers nasional maupun internasional untuk bersama-sama menekan Israel agar menghentikan kekerasan terhadap jurnalis.
“Perlindungan terhadap jurnalis di medan konflik adalah harga mati demi tegaknya kebenaran informasi,” tegas PFI Pusat. (Dok/PFI)









