PotretBisnis.Com, MEDAN-Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Utara dan menewaskan ratusan warga kembali menegaskan bahwa kerusakan lingkungan di kawasan ini telah mencapai titik kritis. Matra Diagnostika Indonesia (MDI) menyatakan bahwa tragedi tersebut bukan semata akibat cuaca ekstrem, melainkan dampak dari tata kelola ruang yang keliru selama bertahun-tahun.
Principal Investigator (PI) MDI, Dido, menjelaskan bahwa wilayah-wilayah terdampak parah yakni seperti Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal—memiliki pola kerusakan yang sama: alih fungsi lahan yang masif dan hilangnya kawasan penyangga ekosistem.
“Daerah yang seharusnya menyerap air berubah menjadi permukiman dan kawasan ekonomi tanpa mempertimbangkan daya dukung tanah. Saat hujan ekstrem datang, infrastruktur tidak mampu menahan luapan air,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Dalam pengamatannya, sungai-sungai yang menyempit, lereng yang dipotong tanpa kajian geologi, serta tutupan hutan yang hilang membuat permukaan tanah melemah dan mudah bergerak. Kondisi ini mempercepat terjadinya banjir bandang dan longsor yang menghantam permukiman.
Dido menegaskan bahwa sebagian besar wilayah terdampak memiliki riwayat bencana serupa dalam dua dekade terakhir. Namun pola pembangunan tetap tidak berubah, bahkan kawasan rawan bencana kembali dijadikan lokasi pembangunan baru.
“Tragedi 2025 adalah bukti nyata bagaimana kebijakan manusia memperbesar dampak bencana alam,” katanya.
MDI mendesak pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melakukan audit menyeluruh terhadap tata ruang, khususnya di empat kabupaten terdampak. Audit ini diperlukan untuk memetakan tingkat kerusakan ekologis dan menentukan langkah pemulihan yang paling mendesak.
“Reformasi mitigasi harus berfokus pada pemulihan ekosistem, bukan hanya respons darurat. Pemerintah juga perlu menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan ini,” tegas Dido.
Menurutnya, menjaga keseimbangan alam adalah syarat mutlak jika negara ingin mengurangi risiko kemanusiaan di masa mendatang.











