PotretBisnis, Medan — Organisasi masyarakat Batak, Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia (PSBI), menggelar pertemuan strategis tingkat wilayah untuk Sumatera Utara dan Aceh pada Sabtu, 17 Mei 2025. Bertempat di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, forum ini menjadi ajang konsolidasi sekaligus perumusan peran PSBI dalam pembangunan berkelanjutan.
Ketua Umum PSBI, Dr. Effendi MS Simbolon, menyampaikan bahwa sejak berdiri hampir dua dekade lalu, PSBI telah berkomitmen menjaga nilai-nilai adat Batak serta meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara spiritual dan ekonomi.
“Sudah saatnya PSBI tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tapi juga aktor nyata dalam pembangunan nasional, khususnya di bidang UMKM, koperasi, dan perlindungan lingkungan,” tegasnya.
Effendi menegaskan bahwa PSBI adalah organisasi yang bersifat independen dari politik dan bisnis. Kegiatan seperti Rakerwil menjadi ruang diskusi awal untuk membawa masukan konkret ke tingkat nasional dalam Rakernas mendatang.
“Kami selalu patuh terhadap hukum dan regulasi negara. Legalitas organisasi kami sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, dan kini memasuki pendaftaran keempat,” tambahnya.
Menurut Effendi, sektor UMKM dan koperasi merupakan kunci dalam menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. PSBI, dengan jejaring anggotanya yang luas, dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung agenda pembangunan pemerintah, termasuk visi Asta Cita.
Peringatan Keras Terkait Krisis Ekologis
Isu lingkungan menjadi salah satu sorotan utama dalam Rakerwil ini. Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, yang turut hadir, memberikan pernyataan keras terkait kerusakan alam di kawasan Tano Batak.
Ia menyoroti keberadaan PT Toba Pulp Lestari (TPL) sebagai salah satu pemicu utama bencana ekologis di kawasan tersebut. Dalam pandangannya, eksploitasi lingkungan telah merusak keseimbangan alam dan berkontribusi terhadap krisis sosial.
“Kita sedang menghadapi ancaman global nyata: krisis iklim. Dan itu bukan sesuatu yang jauh, tapi sudah kita rasakan dampaknya di sini, di tanah Batak. Jika dibiarkan, kita tengah menuju kehancuran yang lebih cepat dari yang kita kira,” ungkapnya.
Ephorus juga mengingatkan bahwa dua dari delapan poin Asta Cita berkaitan langsung dengan perlindungan lingkungan: yakni penguatan ekonomi hijau dan harmoni antara manusia, budaya, dan alam. Ia menegaskan bahwa HKBP telah secara resmi menyerukan penutupan permanen TPL pada 7 Mei lalu, sebagai bentuk sikap moral terhadap keberlangsungan ciptaan Tuhan.
Pemerintah Sumut Apresiasi Kiprah PSBI
Mewakili Gubernur Sumut, Bobby Nasution, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Sumut, Mulyono, memberikan apresiasi atas kontribusi PSBI di tengah masyarakat.
Menurutnya, PSBI telah menunjukkan konsistensi dalam memperjuangkan nilai-nilai adat sekaligus berkontribusi positif terhadap pembangunan daerah.
“Kami percaya, lewat Rakerwil ini, PSBI dapat melahirkan program-program kerja yang relevan, inklusif, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.











