PotretBisnis.com, MEDAN-Sebanyak tujuh (7) rumah sakit (RS) yang ada di Sumatera Utara (Sumut) sudah dikirim ke Jakarta untuk workshop terkait program Medan Medica Tourism Board (MMTB). Sehingga diharapkan peran aktif RS tersebut untuk dapat melaksanakan MMTB.
Hal ini disampaikan Ketua Medan Medical Tourism Board (MMTB) Destanul Aulia, Selasa (21/5). Ke tujuh RS tersebut sudah mendapatkan workshop ke Jakarta. Karena itu, katanya, perlu upaya yang aktif dan responsif dari pelakunya.
“Jadi, yang dianggap pelaku (MMTB) sudah diberikan SK dari Kemenkes. Dan Kemenkes sudah melakukan workshop bagi pelaku wisata medis termasuk tujuh RS di Sumut. Tiga di antaranya, RS Murni Teguh, Royal Prima, Colombia,” ungkapnya.
Pada workshop itu, jelasnya, diberikan gambaran-gambaran untuk setiap RS memasarkan keungulannya. “Kemudian RS didorong membangun wisata kebugaran atau wellness tourism. Karena, ada dua opsi, pertama, medical tourism, yang itu lebih berperan kunjungan mengurangi orang Indonesia berobat ke luar negeri. Namun, untuk wellness tourism, akan dicoba untuk wisatawan mempertahankan kesehatannya dengan memberdayakan wisata Indonesia.
“RS sudah coba membuat keunggulan di weellness tourism. Beberapa di antaranya RS Murni Teguh, RS Royal Prima, dan RS Colombia,” ucapnya.
Jadi, jelasnya, orang-orang datang ke rumah sakit bukan tentang kesehatan tapi untuk kebugaran, kecantikan status kesehatan dan lainnya. “Sehingga ketika sudah tau masalah kesehatan lebih awal bisa pasien promotif maupun preemtiv. Jadi kalau sudah check up awal, maka bisa menekan tekanan darah misalnya mengatur makanan dan dia bisa disarankan ikut program-program kebugaran misalnya,” paparnya.
Terkait RS yang belum melaksanakan MMTB itu, menurutnya, rata-rata RS-RS itu hanya belum berani mengungkapkan bahwa pasien adalah pasien wisata medis. Dimisalkannya, orang Australia orang Jepang yang mau ke Bukit Lawang atau lain, sebelum ke sana mereka sudah minta divaksin dulu. Dan itu termasuk wisata medis. Lalu, lanjutnya, seperti RS Colombia Asia juga banyak ekspatriat.
“Cuma dari luar ke dalam yang itu yang gak ada. Tapi kalau dari luar khusus untuk berobat ke Indonesia, memang tidak ada,” paparnya.
Untuk itu, sebutnya, tujuh RS sudah dipanggil ke Jakarta untuk workshop sehingga mereka bisa memahami. “Kita harus optimis untuk RS kita. Karena RS sudah sangat nyaman sekali terutama tentang BPJS sehingga mereka bisa memberikan pelayanan lain sehingga pelayanan kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Tahun pertama kan sosialisasi dan lain-lain, tahun ke dua sudah buat aktivitas pemasaran,” ungkapnya lagi.
Pihaknya berharap kolaborasi dengan pemko dan pemprov. “Saat ini pemko kan sudah, dan kita harap pemprov juga. Kalau Kota Medan kan memang sudah hub, tapi minim keunggulan wisata. Sedangkan di Sumut, provinsi kan lebih banyak wisata. Makanya kita harap provinsi bisa berharap melakukan itu,” tutupnya. ( PB/SYT)








