PotretBisnis.com, JAKARTA– Garda Pemuda NasDem (GP NasDem) akan membuat rekomendasi resmi ke Fraksi Partai NasDem di DPR RI untuk mempercepat adopsi industri 4.0.
Krisis akibat pandemi covid-19 telah memaksa masyarakat untuk mempercepat adopsi teknologi. Sehingga Indonesia harus mempercepat adopsi teknologi industri 4.0 dan melakukan transformasi digital di semua lini kegiatan ekonomi, baik sektor manufaktur atau UMKM.
Ketua Bidang Kewirausahaan DPP GP NasDem Aaron Sampetoding menuturkan pihaknya akan membuat forum group discussion (FGD) khusus yang melibatkan asosiasi usaha di industri prioritas untuk 4.0.
“Yaitu industri kimia, industri farmasi dan obat tradisional, industri alat angkutan, serta industri makanan dan minuman dan asosiasi lainnya seperti Hipmi dan Kadin,” katanya melalui siaran pers yang diterima, Selasa (19/5/2020).
Diharapkan FGD ini dapat menjadi wadah untuk urun rembuk guna memberikan pandangan dan masukan dari dunia usaha demi mempercepat adopsi industri 4.0. Oleh karena itu, lanjut Aaron, ada tiga rencana aksi yang perlu diimplementasikan untuk mempercepat adopsi industri 4.0 di Indonesia.
Pertama, menciptakan dan memperkuat ekosistem industri 4.0. Caranya dengan membangun ekosistem industri 4.0 yang akan menciptakan kolaborasi antara sektor manufaktur, perusahaan riset dan teknologi, serta dengan universitas dan akademisi.
“Kemudian membangun kemitraan strategis antara UMKM dan manufaktur yang mempunyai visi yang sama terhadap industri 4.0,” tutur Aaron.
Selanjutnya yakni membangun kemitraan informasi dan pengetahuan antara sektor manufaktur, perusahaan, dan universitas pada bidang teknologi dan riset.
Kedua, melakukan perencanaan strategis sumber daya manusia dan tenaga kerja nasional untuk menyongsong industri 4.0.
Baca Juga: PSP Foundation Salurkan Beras Kepada Masyarakat di Deliserdang
Rekomendasi kedua ini dengan menciptakan high skilled labor force yang dulunya low skilled labor force melalui jurusan spesialisasi di universitas, vokasi kejuruan, dan lembaga pendidikan alternatif lainnya.
Lalu menginventarisasi kekurangan pasokan terhadap kebutuhan tenaga kerja industri 4.0. Serta mengurangi kekurangan pasokan kebutuhan tenaga kerja industri 4.0 dengan menarik bakat asing untuk transfer pengetahuan kepada tenaga kerja lokal.
“Ketiga, penambahan pendanaan untuk inovasi. Dengan cara penambahan anggaran negara untuk penciptaan ekosistem industri 4.0 nasional. Serta memfasilitasi akses pendanaan dari perbankan maupun dari institusi swasta,” ujarnya. (PB/rel-ram)









