PotretBisnis.com, LANGKAT– Hari Lingkungan Hidup Sedunia diselenggarakan pada tanggal 5 Juni 2019, momentum ini dipakai oleh aktivis seluruh dunia untuk untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan hidup serta mendorong perhatian dan tindakan para elit politik dunia untuk secara aktif menyuarakan proteksi terhadap planet bumi serta mendorong gaya hidup yang ramah lingkungan, kesempatan ini dipandang sebagai aksi global untuk mengembalikan bumi menjadi tempat yang tetap layak bagi seluruh mahluk hidup.
Tahun ini gerakan #BersihkanIndonesia, Yayasan Srikandi Lestari bersama Pemerhati dan Pengiat Lingkungan Sumut serta masyarakat Pesisir Pantai Timur Langkat melakukan kampanye kreatif diatas perairan Teluk Aru, aksi ini diikuti oleh 120 nelayan dan masyarakat sipil di Sumatera utara dengan 24 perahu dan kapal akan membentangkan spaduk 9 x 7,5 meter bertuliskan penolakan terhadap PLTU batubara Pangkalan Susu dan mendesak pemerintah untuk menghentikan penggunaan energi fosil pembunuh dan perusak lingkungan batubara dan mengganti dengan energi baru dan terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan, serta mendorong Pemerintah untuk segera melakukan transisi energi yang berkeadilan dan melepaskan ketergantungan sistem energi dan ketenagalistrikannya terhadap energi kotor batu bara.
Ketergantungan terhadap batu bara memiliki dampak negatif pada semua sektor, keberadaan PLTU batubara menurunkan tingkat kesehatan, menghancurkan produktivitas ekonomi rakyat dan merusak lingkungan di Indonesia namun tidak dihitung oleh negara sebagai bencana sosial.
Sepanjang kuartal I 2019, penyaluran batubara ke Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU) mencapai 23 Juta Ton, jumlah itu setara dengan 23,95 % dari target penyaluran batubara ke PLTU sepanjang tahun ini. Ambisi pemerintah untuk membangun 35.000 megawatt PLTU juga sangat rentan terhadap korupsi dan suap yang berpusat pada pembangkit listrik di Indonesia.
Riset yang dipublikasi Greenpeace Indonesia menyebutkan PLTU batu bara diperkirakan telah menyebabkan 6.500 kematian dini setiap tahunnya. Dengan rencana pembangunan PLTU batu bara baru, angka kematian ini bisa mencapai 28.300 orang setiap tahun. Dari hulu ke hilir, biaya kesehatan, lingkungan dan sosial dari pertambangan batu bara tidak diperhitungkan yang pada akhirnya harus ditanggung rakyat. Biaya kesehatan dari PLTU Batubara misalnya, mencapai Rp 351 triliun untuk setiap tahun. Karena itu, Indonesia membutuhkan langkah serius untuk menghentikan penggunaan energi fosil khususnya batu bara dan beralih pada penggunaan energi terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan di tahun 2025.
Di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera utara, PLTU batubara Pangkalan Susu, Sumut berkapasitas 2 x 200 megawatt mengakibatkan meluasnya penggundulan hutan bakau, erosi tanah, kehilangan sumber air, polusi udara dan menghasilkan jutaan ton limbah beracun.
Direktur Yayasan Srikandi Lestari Menyerukan agar pemerintah berkomitmen untuk beralih dari energi kotor batu bara ke energi bersih terbarukan, dan untuk berani menghentikan proyek energi kotor batu bara yang menyengsarakan rakyat.
Sumatera saat ini berada diambang kehancuran ekologis sebagai muara dari rakusnya penggunaan energi kotor batu bara. Menyandarkan sumber energi dari batubara adalah jalan yang salah dan dipastikan akan memberikan dampak buruk bagi keselamatan lingkungan dan mahluk hidup di dalamnya.
Adapun seruan bersama Perayaan Hari Lingkungan Hidup antara lain :
Pemerintah menutup PLTU batubara Pangkalan Susu dan meninggalkan energi fosil kotor batu bara dan beralih ke energi baru terbarukan.
Mendesak gubernur Sumatera Utara untuk mencabut semua ijin proyek PLTU batubara yang saat ini tengah beroperasi.
PLTU Pangkalan Susu, Sumatera Utara berkapasitas 2×100 MW diyakini telah merusak ekosistem laut, hutan mangrove, lahan pertanian sebagai sumber utama mata pencaharian warga dan abunya berdampak pada kesehatan. Gerakan ini meminta pemerintah untuk meninggalkan energi fosil batu bara dan beralih ke sumber energi bersih terbarukan serta memulihkan dampak kerusakan lingkungan. (PB/AR)










