
Potretbisnis.com, MEDAN-Kepala Kantor Regional (KR) 5 Sumatera OJK, Achmad Sukro Tratmono menegaskan OJK ingin semua industri keuangan dan perbankan bersinergi sehingga menjadi tangguh di masa depan untuk meningkatkan perekononian dan pembangunan.
Diungkap Sukro, OJK dibentuk sesuai Undang-undang nomor 21 tahun 2011 tentang OJK tanggal 22 Nopember 2011. Jadi tanggal pembentukan itu menjadikannya sebagai hari lahir OJK yang pada 22 Nopember 2015 genap berusia 4 tahun.
“OJK ingin adanya sinergi dalam industri keuangan yang saling menopang satu sama lain, jangan terpisah-pisah dan harus menjadi satu kekuatan membangun perekonomian,” kata Sukro pada perayaan HUT ke 4 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) KR 5 Sumatera di lantai 9 gedung Bank Indonesia (BI) Jalan Balai Kota Medan.
Acara yang dikemas sederhana itu dihadiri para bankir di daerah ini seperti Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Kusbiantoro, Direksi PT Bank Sumut Yulianto Maris dan Direktur Umum Bank Mestika Yusri Hadi. Sukro juga memberikan bingkisan kepada anak-anak yatim yang ikut memeriahkan ulang tahun. Tema tahun ini “Berkarya memperkuat integritas sektor jasa keuangan”.
Sinergi yang dimaksud Sukro, seperti antara perbankan dan asuransi juga pasar modal. Banyak produk asuransi yang mendukung perbankan. Targetnya agar industri keuangan bersinergi yakni mampu membuat produk bagi masyarakat untuk kesejahteraan dan pembangunan. Pasalnya pertumbuhan industri keuangan sangat pesat sekali. Ada 50 konglomerasi, 229 industri jasa keuangan (perbankan, pasar modal, asuransi dan industri jasa keuangan non bank lainnya).
Menurutnya, kini industri jasa keuangan, juga pasar modal aktif sekali dalam mengembangkan alternatif investasi. Sektor industri keuangan non bank (IKNB), juga menunjukkan beberapa alternatif untuk bisa bersinergo dalam industri jasa keuangan lainnya seperti produk asuransi pertanian yang gilirannya mendukung sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Selain, OJK kini juga ada tugas baru dalam edukasi dan perlindungan konsumen. Dalam edukasi banyak yang dilakukan OJK seperti Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) ditujukan untuk meningkatkan industri keuangan di daerah. Sebab masyarakat di daerah belum banyak tahu tentang perbankan.
Sejumlah bank sudah meluncurkan Laku Pandai seperti BRI Link (layanan transaksi keuangan tanpa kantor). BNI , BCA, BPTN juga sudah mengeluarkan program Laku Pandai. Juga ada program Jangkau, Sinergi, dan Guideline atau JARING dengan menggandeng bank, lembaga pembiayaan, perusahaan asuransi dan KADIN untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor kelautan dan perikanan.
“Di Sumut sebentar lagi diluncurkan program JARING. Ini sangat membantu dalam meningkatkan transaksi keuangan di daerah,” katanya.
OJK juga mengajak seluruh asosiasi keuangan seperti Perbanas, Perbarindo dan asosiasi pembiayaan lainnya agar bersatu, bersinergi membangun perekonomian di wilayah Sumatera. “Mari industri jasa keuangan bergandengan tangan untuk membangun perekonomian yang bersinambungan,” katanya.
Luasnya cakupan pengawasan itu maka OJK melihat bahwa penegakan good governance dalam sektor jasa keuangan menjadi modal utama dan terpenting dalam menunjang keberhasilan kemajuan perekonomian sebuah negara. Secara nasional di industri keuangan non-bank sampai dengan semester I 2015, aset perusahaan asuransi mencapai Rp777 trilliun, aset perusahaan pembiayaan sebesar Rp435 triliun dan aset Dana Pensiun sebesar Rp195 triliun. (PotretBisnis/isya)









