PotretBisnis.Com, MEMPAWAH-Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, resmi melayani ekspor perdana (maiden voyage) menggunakan petikemas. Pelepasan sebanyak 180 kontainer melalui kapal milik PT Pulau Laut Line ini menjadi tonggak baru dalam penguatan konektivitas logistik nasional sekaligus membuka akses pasar internasional bagi komoditas unggulan Kalimantan Barat.
Layanan ekspor langsung melalui Terminal Kijing yang dioperasikan PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok, menekan biaya logistik, menarik investasi, serta memperkuat daya saing produk ekspor Indonesia.
Pada ekspor perdana ini, PT Borneo Alumina Indonesia mengirimkan 12 kontainer Alumina Hydroxide ke Pasir Gudang, Malaysia. PT Unicoco Industries Indonesia mengekspor dua kontainer produk olahan kelapa ke negara tujuan yang sama, sedangkan PT Ferrindo mengirimkan 10 kontainer kelapa bulat ke Yangpu, Tiongkok. Dari kawasan Tayan, PT Indonesia Chemical Alumina mengekspor 150 kontainer menuju Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
Pelepasan ekspor perdana dihadiri Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, Bupati Mempawah Erlina, Direktur Komersial PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Farid Padang, Executive Director 2 Pelindo Regional 2 Budi Prasetio, General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak Yanto, serta jajaran instansi terkait dan para pemangku kepentingan.
Direktur Komersial PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Farid Padang, mengatakan dimulainya layanan ekspor petikemas merupakan langkah strategis Pelindo dalam memperkuat jaringan logistik nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat.
> “Hari ini kami melakukan ekspor perdana sebanyak 180 kontainer berisi produk alumina, kelapa, dan minyak olahan. Ke depan kami akan menyiapkan kapal yang lebih besar, crane baru, serta memperpanjang dermaga agar Terminal Kijing semakin mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat,” ujarnya.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengapresiasi dimulainya layanan ekspor petikemas tersebut. Menurutnya, Terminal Kijing berpotensi menjadi pusat ekspor-impor baru di Kalimantan Barat. Pemerintah Provinsi Kalbar, katanya, akan terus mendukung pengembangan pelabuhan melalui percepatan investasi, pembangunan akses jalan, serta peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal.
Executive Director 2 Pelindo Regional 2, Budi Prasetio, menambahkan ekspor perdana ini merupakan hasil sinergi Pelindo, pemerintah, regulator, perusahaan pelayaran, eksportir, dan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap Terminal Kijing.
General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Yanto, mengatakan layanan ekspor langsung melalui Terminal Kijing memberikan efisiensi biaya logistik karena lebih dekat dengan kawasan industri dan gudang, sekaligus mempercepat waktu pengiriman ke negara tujuan.
> “Eksportir tidak lagi bergantung pada pelabuhan di luar Kalimantan Barat. Biaya angkutan darat menjadi lebih efisien, sementara waktu pengiriman juga lebih singkat,” katanya.
Seiring dimulainya layanan petikemas, kinerja Terminal Kijing terus menunjukkan pertumbuhan. Throughput meningkat dari 1,95 juta ton pada 2023 menjadi 2,75 juta ton pada 2024 dan menembus 4 juta ton pada 2025. Hingga triwulan I 2026, throughput kembali mencapai sekitar 1,5 juta ton yang didominasi komoditas curah kering dan curah cair.
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, menegaskan pihaknya berkomitmen menghadirkan layanan operasional yang andal, aman, dan produktif melalui dukungan SDM, peralatan modern, serta penerapan standar operasional yang baik untuk mendukung kelancaran logistik nasional maupun internasional.
Terminal Kijing kini didukung fasilitas modern, mulai dari dermaga petikemas sepanjang 750 meter berkapasitas kapal hingga 100.000 DWT, dermaga multipurpose, curah cair, dan curah kering, hingga berbagai peralatan bongkar muat seperti Harbour Mobile Crane, Quay Container Crane, reach stacker, forklift, conveyor, dan fasilitas pendukung lainnya.
Dengan infrastruktur tersebut, Terminal Kijing diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai gerbang logistik strategis di Kalimantan Barat, mendukung hilirisasi industri, meningkatkan daya saing ekspor, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.









