PotretBisnis.com, JAKARTA-Anak-anak Indonesia kian akrab dengan ruang digital, namun di saat yang sama menghadapi tantangan serius terhadap kesehatan mental dan perlindungan diri. Bersamaan dengan itu, krisis iklim yang semakin nyata turut mengancam pemenuhan hak-hak dasar anak, mulai dari pangan, pendidikan, hingga rasa aman. Hal ini disampaikan Save the Children Indonesia dalam diskusi media awal Tahun 2026, Selasa (14/1/2026).
Studi Save the Children Indonesia Tahun 2025 tentang Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak menunjukkan hampir 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu 3–6 jam per hari di depan gawai, dengan puncak penggunaan pada pukul 18.00–21.00. Anak perempuan tercatat memiliki durasi layar lebih lama dibandingkan anak laki-laki. Temuan ini menegaskan bahwa dunia digital telah menjadi ruang hidup utama anak, bahkan ketika sekolah melarang penggunaan ponsel, anak tetap berupaya mengakses gawai saat jam pelajaran.
Studi tersebut juga menemukan bahwa peningkatan literasi digital tidak serta-merta berbanding lurus dengan kesejahteraan mental anak. Semakin tinggi tingkat kecanduan digital, semakin rentan kondisi kesehatan mental mereka. Anak-anak umumnya sudah memahami berbagai risiko di ruang digital, seperti penipuan, peretasan, pencurian data, hingga perundungan siber. Namun, pemahaman ini belum diiringi dengan keterampilan untuk merespons secara aman dan sehat.
“Anak-anak tahu risiko di ruang digital, tetapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan penguasaan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai,” tegas CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar.
Di sisi lain, anak-anak juga menghadapi dampak krisis iklim yang kian mengkhawatirkan. Laporan Voluntary National Review SDGs Tahun 2025 mencatat krisis iklim telah memengaruhi pemenuhan hak anak, mulai dari terganggunya pola makan dan kesehatan, menurunnya pendapatan keluarga, hingga meningkatnya risiko perlindungan, terutama dalam situasi bencana.
Kajian bersama Save the Children dan Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025 menemukan bahwa kecukupan air bersih di lokasi pengungsian masih belum merata dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi anak dan keluarga. Sejumlah fasilitas kesehatan terdampak dan belum mampu beroperasi optimal, sementara kebutuhan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui masih belum terpenuhi secara memadai.
Menghadapi kondisi tersebut, Save the Children Indonesia menekankan pentingnya pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi. Memasuki Tahun 2026, sejumlah prioritas mendesak perlu dilakukan, antara lain memperkuat keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan, sistem perlindungan, serta partisipasi anak, guru, dan orang tua; meningkatkan literasi adaptasi krisis iklim dan aksi iklim bermakna bagi anak; serta memastikan pemenuhan hak anak dalam tahapan transisi pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan aman, sehat, dan tangguh menghadapi krisis serta perubahan zaman. Tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak hari ini, cita-cita itu akan sulit tercapai,” ujar Dessy Kurwiany Ukar. (PB/Andi)











