PotretBisnis.com, JAKARTA– Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait menyampaikan, pihaknya sedang fokus menjalankan masterplan bisnis MRO termasuk pengembangan sumber daya manusia di Batam Aero Technic (BAT).
Sejak beroperasi pada 2014, dari lima tahap pengembangan BAT, perusahaan sudah merampungkan satu tahap.
“Tahap pertama sudah difungsikan 4 hektare, dan untuk tahap kedua adalah 3 hektare. Pada tahap kedua akan dibangun hanggar untuk aircraft painting sebanyak dua unit, warehouse, dan avionic shop,” ujar Edward di Jakarta (16/4/218).
Dengan area yang telah terbangun seluas 4 hektare, saat ini hangar sudah bisa menampung 12 pesawat narrow body (berbadan ramping) atau empat pesawat berbadan besar secara simultan.
Lion Group menargetkan, perluasan fasilitas BAT hingga tahap ketiga akan rampung pada tahun 2019 dengan kemampuan memperbaiki sebanyak 38 pesawat sekaligus.
“Tahap kelima akan selesai pada tahun 2022. Jumlah pekerjanya kalau sudah tiga shift kurang lebih 10.000 orang,” ungkap Edward
Selain itu, tambahnya, perusahaan sudah melakukan kerja sama dengan Pemerintah Kota Batam untuk membangun politeknik aviasi. “Total nilai investasi pengembangan BAT ini diperkirakan mencapai Rp8-9 triliun,” ucap Edward.
Alasan Lion Group memperluas fasilitas MRO adalah untuk menangani sekitar 250 unit pesawat yang dimilikinya.
Apalagi, Lion berencana mendatangkan sekitar 700 unit pesawat berbagai jenis, seperti pesawat ATR, Boeing, dan Airbus untuk melayani rute domestik maupun internasional.
“Adanya fasilitas pengetesan pesawat, membuat MRO milik Lion Group menjadi yang tercanggih dan satu-satunya di Asia,” tuturnya.
Sumber: industry










