“Jadi kalau mau Sumut sejahtera, Kualanamu harus jadi aerotropolis”
PotretBisnis.com, DELISERDANG –Aerotropolis Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deliserdang sudah diwacanakan sejak lama. Sejak Kualanamu diresmikan empat tahun lalu, wacana tersebut dari hari ke hari semakin menguap.
Dirangkum JawaPos.com (grup Sumut Pos) dari berbagai sumber, aerotropolis merupakan kota di mana tata letak, infrastruktur, dan ekonomi berpusat pada bandara. Seperti konsep kota metropolitan, bandara sebagai pusat aerotropolis juga memiliki kawasan pinggir kota (sub urban) yang terhubung oleh infrastruktur dan transportasi masal.
Aerotropolis biasanya dilengkapi industri manufaktur, e-commerce, telekomunikasi dan logistik, hotel, gerai ritel, pusat entertainment dan eksibisi. Selain itu harus ada ruang perkantoran bagi para pebisnis yang sering bepergian melalui bandara atau terlibat dalam perdagangan global. Di samping itu, aerotropolis juga dilengkapi pusat perdagangan grosir serta sarana transportasi yang terintegrasi.
Saat ini Aerotropolis masih ada di tujuh negara. Antara lain Belanda, Hongkong, Malaysia, Uni Emirat Arab, India dan Amerika Serikat.
Sayangnya, progres aerotropolis di Kualanamu terkesan lamban. Menjadi pertanyaan besar, mengapa penggarapannya begitu lamban?
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca IP Pandjaitan XIII kembali mengangkat wacana itu ke permukaan. Menurutnya, jika Kualanamu bisa menjadi aerotropolis, akan membawa perubahan signifikan di Sumatera Utara.
Hinca mempertanyakan, kenapa pemerintah kurang getol menggarap aerotropolis. Dia menduga ada kepentingan besar, sehingga aerotropolis itu belum juga jadi. “Aerotropolis masih terganjal mafia,” kata Hinca di sela kegiatannya di Kota Medan, Jumat (7/12).
Hinca menyebutkan, mafia itu bisa jadi memang tidak menginginkan aerotropolis berkembang di Sumut. Sebab, jika Kualanamu menjadi pusat bisnis (khususnya penerbangan), maka bandara di sekitarnya bisa tutup.
Contohnya saja Changi Airport di Singapura dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Selama ini, pesawat dari Eropa akan transit untuk mengisi bahan bakar di Changi Airport setelah terbang 13 jam.
Sementara itu, jika Kualanamu makin berkembang dan menjual bahan bakar, akan terjadi banyak perubahan. Sebab, jaraknya hanya 10 jam dari Eropa. Sehingga pesawat akan memilih mengisi bahan bakar di Kualanamu. “Jadi kalau di Kualanamu jualan bahan bakar saja bisa hidup,” ungkap laki-laki 54 tahun itu.
Dia mencontohkan Bandara di Cengkareng. Dengan traffic yang cukup padat, mereka menjual bahan bakar yang banyak. Namun tidak mungkin pesawat dari Eropa melandas di sana. Sebab jaraknya terlalu jauh.
Hinca berharap pemerintah, khususnya Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi bisa melirik kembali aerotropolis Kualanamu. Sehingga bisa mendorong juga masyarakat untuk mendukungnya. Karena begitu besar dampaknya dengan perkembangan ekonomi masyarakat. “Jadi kalau mau Sumut sejahtera, Kualanamu harus jadi aerotropolis,” tandasnya. (PB/Jp)









