PotretBisnis.Com, MEDAN-Aktivitas di areal TPL Sektor Aek Nauli, Desa Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Senin pagi (22/9/2025), mendadak mencekam. Apa yang semestinya menjadi rutinitas kerja karyawan PT Toba Pulp Lestari (TPL) berubah menjadi bentrokan terbuka dengan kelompok massa. Puluhan orang dari kedua belah pihak terluka, sebagian harus dilarikan ke rumah sakit.
Direktur PT TPL, Jandres Silalahi, mengisahkan detik-detik memanasnya situasi itu. Menurutnya, sejak pukul 07.51 WIB, karyawan bersama pekerja lokal dan tim sekuriti sedang bersiap melakukan pemanenan dan penanaman di areal perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) TPL. Satu unit ekskavator bahkan sudah diturunkan ke lokasi.
Namun, setengah jam kemudian, puluhan orang datang menghadang. Negosiasi sempat diupayakan, tapi tak menghasilkan titik temu. “Sekitar pukul 08.25 WIB, kelompok massa terus bertambah dan melarang kegiatan operasional dilakukan,” ungkap Jandres, didampingi Direktur Anwar Lawden dan Manager Corporate Communication, Salomo Sihotang.
Ketegangan pecah tak lama setelah karyawan mulai kembali bekerja. Massa disebut datang dengan membawa pentungan kayu berduri, batu, bahkan benda yang diduga bom molotov. Lemparan batu dan aksi pemukulan pun tak terhindarkan. “Mereka juga mencoba membakar aset perusahaan berupa kayu hasil panen,” ujar Jandres.
Dalam kericuhan itu, satu unit truk pemadam kebakaran dan mobil patroli perusahaan rusak. Lima orang pekerja dan sekuriti mengalami luka berat hingga harus dirawat inap di rumah sakit.
Perusahaan menduga aksi tersebut tidak spontan. “Peristiwa ini diduga telah direncanakan sebelumnya oleh sekelompok orang yang melibatkan LSM,” tambah Jandres.
Di sisi lain, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) justru menuding TPL melakukan penyerbuan terhadap masyarakat adat di Buntu Panaturan, Sihaporas. Tudingan itu dibantah keras oleh perusahaan.
“Yang terjadi adalah aksi anarkis yang mengganggu kegiatan operasional dan membahayakan pekerja, termasuk masyarakat lokal yang justru ingin bekerja,” tegas Corporate Communication TPL, Salomo Sihotang.
Hingga kini, situasi di lapangan masih menjadi perhatian. Bentrokan antara TPL dan kelompok masyarakat kembali mengingatkan bahwa konflik agraria di Sumatera Utara belum sepenuhnya menemukan jalan damai










