PotretBisnis.com, JAKARTA-Pertemuan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dengan Menteri Kehutanan RI yang juga Sekretaris Jenderal DPP Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni, bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Di tengah dinamika politik Aceh yang belum sepenuhnya stabil, pertemuan itu mengirim pesan yang sulit diabaikan.
Secara formal, Illiza menyebut pertemuan tersebut sebagai diskusi santai dan ajang mempererat sinergi pusat-daerah. Narasi itu wajar. Namun dalam politik, simbol dan momentum sering kali lebih berbicara daripada pernyataan resmi.
“Alhamdulillah saya berkesempatan bersilaturahmi dan berdiskusi santai memenuhi undangan Bapak Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di kediaman beliau. Terima kasih atas jamuan serta sambutan hangatnya. Semoga sinergi dan kolaborasi yang baik ini dapat terus terjalin,” kata Illiza di media sosialnya.
Raja Juli Antoni bukan hanya menteri teknis. Ia adalah Sekjen DPP PSI—posisi strategis yang menentukan arah konsolidasi dan ekspansi partai. Undangan ke kediaman pribadi seorang sekjen partai tentu bukan sekadar jamuan kopi biasa, apalagi ketika yang diundang adalah kepala daerah dengan rekam jejak politik kuat di Aceh.
Pertemuan ini menjadi semakin menarik karena terjadi di saat isu dinamika internal Demokrat Aceh belum sepenuhnya mereda. Nama Illiza sempat dikaitkan dalam berbagai spekulasi politik daerah. Dalam situasi seperti ini, setiap pergerakan menjadi sorotan.
Apakah PSI sedang membaca peluang di Aceh? Ataukah Illiza tengah membuka kanal komunikasi baru sebagai langkah antisipatif terhadap perubahan peta politik?
PSI selama ini dikenal agresif mencari figur-figur elektoral di daerah untuk memperkuat basisnya. Aceh, dengan karakter politik yang unik dan dominasi partai lokal, menjadi wilayah yang menantang sekaligus strategis. Menggaet figur seperti Illiza jelas akan menjadi langkah simbolik sekaligus taktis.
Dalam politik nasional, komunikasi lintas partai adalah hal lumrah. Namun, ketika komunikasi itu terjadi dalam konteks momentum yang sensitif, tafsir politik menjadi tak terhindarkan.
Pertemuan di kediaman sekjen partai memiliki makna berbeda dibanding pertemuan formal di kantor kementerian. Ada ruang privat, ada pesan personal, dan sering kali ada pembicaraan yang tidak seluruhnya untuk konsumsi publik.
Jika benar ada tawaran peran strategis di PSI Aceh, maka ini bisa menjadi babak baru dalam konfigurasi politik daerah. PSI membutuhkan figur kuat untuk menembus dominasi lama. Sementara bagi Illiza, opsi politik baru bisa menjadi manuver strategis dalam menjaga relevansi dan daya tawar.
Hingga kini belum ada deklarasi atau pernyataan resmi soal langkah politik lanjutan. Namun satu hal pasti: pertemuan ini bukan peristiwa yang terjadi dalam ruang hampa.
Di Aceh, politik selalu bergerak dalam lapisan-lapisan simbol dan sinyal. Pertemuan Illiza dan Raja Juli Antoni bisa saja murni silaturahmi. Tetapi bisa juga menjadi pintu masuk bagi konfigurasi baru—baik di tubuh PSI Aceh maupun dalam peta koalisi jangka panjang.
Publik kini menunggu: apakah ini hanya foto dan unggahan media sosial, atau awal dari manuver politik yang lebih besar? Dalam politik, sering kali jawaban tidak datang lewat pernyataan, melainkan lewat langkah berikutnya.
Jika benar ada komunikasi politik yang lebih serius di balik pertemuan tersebut, langkah Illiza tentu bukan tanpa risiko. Basis pemilih di Aceh memiliki karakter ideologis dan historis yang kuat. Perpindahan atau perubahan afiliasi politik bisa memicu resistensi, sekaligus membuka peluang dukungan baru.
Bagi Illiza Sa’aduddin Djamal, keputusan politik tidk hanya soal kendaraan partai, tetapi juga tentang konsistensi citra dan kalkulasi elektoral jangka panjang. Ia adalah figur yang telah melewati berbagai fase politik—dari legislatif hingga eksekutif. Setiap langkah tentu diperhitungkan secara matang.
Di sisi lain, Partai Solidaritas Indonesia juga menghadapi tantangan besar jika ingin serius membangun pijakan di Aceh. Wilayah ini memiliki kekhasan regulasi, budaya politik, serta dominasi partai lokal yang tidak mudah ditembus. Menghadirkan figur dengan akar sosial kuat bisa menjadi strategi realistis dalam ranah partai itu sendiri.(PB/Ai)










